Hari Kemerdekaan 2019 + Google Calendar

Hari Kemerdekaan 2019

Hari Kemerdekaan 2019 jatuh pada hari Sabtu, 17 Agustus 2019

17 Agustus jadi perayaan Hari Kemerdekaan di Indonesia. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk merayakannya dan termasuk banyak tradisi unik.

Tanggal 17 Agustus merupakan hari yang memiliki nilai sejarah sangat penting bagi bangsa Indonesia. Pada hari itu, seluruh rakyat Indonesia gegap-gempita merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Pada hari itulah, proklamator Ir. Soekarno dan M. Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia kepada dunia.
Proklamasi kemerdekaan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia itu didapatkan ketika terjadi peristiwa peralihan kekuasaan dari Jepang kepada Sekutu. Peralihan kekuasaan itu dilakukan setelah kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Momen proklamasi kemerdekaan ini dilakukan oleh Soekarno dan Hatta dengan memanfaatkan kekosongan kekuasaan yang tengah terjadi.

Momen-Momen Penting Sebelum Hari Kemerdekaan Indonesia

Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diawali dengan dijatuhkannya bom atom oleh Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa ini masing-masing terjadi pada tanggal 6 Agustus dan 9 Agustus 1945. Imbas dari pengeboman tersebut, Jepang pun menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.
Hanya saja, kabar mengenai kekalahan pasukan Jepang itu tidak tersebar luas. Apalagi, penyebaran informasi di zaman itu masih sangat terbatas, dengan memanfaatkan radio. Tanpa mengetahui kabar kekalahan Jepang, pada tanggal 12 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta yang berperan sebagai pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat yang merupakan mantan ketua BPUPKI dipanggil Jepang ke Dalat, Vietnam.
Di Kota Dalat, ketiganya bertemu dengan pimpinan besar militar Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Terauchi. Dalam pertemuan itu, Terauchi mengatakan kalau pasukannya tengah dalam kondisi terpojok. Mereka pun menjanjikan akan memberikan kemerdekaan Indonesia. Menurut pengakuan Jepang, kemerdekaan itu bakal diberikan pada tanggal 24 Agustus 1945.
Namun, hal yang tak disangka Jepang, Sutan Syahrir ternyata mendengar kabar kekalahan Jepang lewat radio pada tanggal 10 Agustus 1945. Setelah kedatangan Soekarno dan rombongan dari Dalat, Syahrir mendesak agar hari kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan. Alasannya, karena mereka tidak ingin kebebasan rakyat Indonesia dianggap sebagai hadiah dari Jepang.
Oleh Soekarno dan Hatta, permintaan dari Syahrir itu dianggap terlalu terburu-buru. Apalagi, pada masa itu terdapat dua faksi, yakni kubu yang mendukung dan kubu yang menolak keberadaan Jepang. Di sisi lain, Soekarno juga tidak begitu yakin dengan kebenaran kabar kekalahan Jepang. Dia pun takut kalau proklamasi yang dilakukan, akan menimbulkan pertumbahan darah besar-besaran karena kondisi pejuang Indonesia yang tidak siap.
Kabar mengenai menyerahnya pasukan Jepang akhirnya secara resmi dilakukan pada tanggal 14 Agustus 1945, dilakukan di atas kapal USS Missouri. Dalam peristiwa tersebut, Jepang menjanjikan akan memberikan kekuasaan atas Indonesia kepada pasukan Sekutu. Para pejuang dari golongan muda, seperti Sutan Syahrir, Darwis, Wikana, serta Chaerul Saleh pun mendengar kabar resmi ini melalui radio BBC.
Hanya saja, golongan tua ternyata masih belum yakin dengan kabar itu. Soekarno dan Hatta pergi menuju kantor pimpinan miiter Jepang (Gunsei) yang ada di Koningsplein (Medan Merdeka) untuk mengkonfirmasi kabar ini. Hanya saja, ketika mereka datang ke sana, kantor ternyata dalam kondisi kosong.
Selanjutnya, Soekarno dan Hatta dengan disertai Soebardjo datang ke kantor Bukanfu yang ada di Jalan Medan Merdeka Utara dan menemui Laksamana Maeda. Dari pertemuan itu, Laksamana Maeda memberi ucapan selamat karena adanya pemberian janji kemerdekaan oleh Jepang kepada Indonesia. Hanya saja, Maeda tidak memberikan konfirmasi atas berita kekalahan Jepang.
Selanjutnya, PPKI berencana untuk melakukan rapat persiapan proklamasi pada pukul 10.00 tanggal 16 Agustus 1945. Hanya saja, rapat itu batal dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tak muncul. Alih-alih datang ke rapat, Soekarno dan Hatta ternyata diculik oleh para pejuang golongan muda, seperti Chaerul Saleh, Wikana, san Sukarni ke Rengasdengklok.

Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa penculikan Soekarno dan Hatta itu begitu fenomenal dalam catatan sejarah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, disebut dengan nama Peristiwa Rengasdengklok. Dalam penculikan ini, turut serta pula Fatmawati dan Guntur yang saat itu masih berusia balita.
Tujuan dari penculikan Soekarno dan Hatta oleh golongan muda ini adalah untuk mendesak keduanya segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka percaya, bahwa janji pemberian kemerdekaan oleh Jepang hanyalah isapan jempol belaka. Soekarno dan Hatta pun akhirnya menerima desakan para golongan muda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.
Malam harinya, Soekarno dan Hatta berusaha untuk menemui Kepala Staf Tentara XVI Angkatan Darat di Jepang, Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto. Hanya saja, usaha itu tak membuahkan hasil, karena Kepala Pemerintahan Militer Jepang (Gunseikan) itu tak mau menerima keduanya. Namun, dari kedatangan ini, keduanya telah mendapatkan konfirmasi kabar mengenai menyerahnya Jepang kepada Sekutu.
Berbeda dengan pandangan perwira Jepang lainnya, Laksamana Muda Maeda menyambut gembira usaha untuk mempersiapkan proklamasi yang dilakukan Soekarno dan Hatta. Dia pun mempersilakan keduanya untuk memakai kediamannya yang ada di alamat Jl. Imam Bonjol 1 sebagai tempat persiapan rapat Hari Kemerdekaan Indnesia. Di sinilah, penyusunan teks proklamasi dilakukan, melibtkan beberapa tokoh seperti Soekarni, Sayuti Melik, Hatta, Soekarno, dan Achmad Soebardjo.

Pembacaan Teks Proklamasi di Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945

Rapat di rumah Laksamana Maeda berlangsung sampai dini hari. Dari hasil rapat didapatkan keputusan kalau Soekarno adalah orang yang bakal membacakan teks proklamasi, dengan ditandatangani Soekarno dan Hatta yang mengatasnamakan bangsa Indonesia.
Pembacaan teks proklamasi ini dilakuan pada pukul 10.00 di kediaman Soekarno yang beralamat di Jl. Pegangsaan Timur 56. Pembacaan teks proklamasi disertai dengan pidato tanpa teks oleh Soekarno. Acara kemudian diteruskan dengan upacara pengibaran bendera merah putih yang sebelumnya dijahit oleh Fatmawati. Mengiringi upacara pengibaran bendera adalah lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh W.R. Soepratman.

Perayaan Hari Kemerdekaan 2019 di Indonesia

Untuk memperingati Hari Kemerdekaan, rakyat Indonesia melakukan beragam acara. Di Istana Negara, secara rutin dilakukan upacara kemerdekaan. Sementara itu, di berbagai daerah, masyarakat pun turut berlomba-lomba memeriahkan perayaan 17 Agustus dengan berbagai lomba tradisional.

Demikian artikel singkat terkait perayaan Hari Kemerdekaan 2019 di Indonesia. Merdeka!