Tahun Baru Hijriyah 2019 + Google Calendar

Tahun Baru Hijriyah 2019

Tahun Baru Hijriyah 2019 jatuh pada hari Minggu, 1 September 2019

Tahun Baru Hijriyah 2019 akan menjadi momen bagi umat Islam untuk muhasabah atau evaluasi atas perilaku selama setahun terakhir.

Perayaan Tahun Baru yang dilakukan oleh umat Islam tidak hanya setiap tanggal 1 Januari. Perayaan yang sama juga dilakukan pada Tahun Baru Hijriyah yang dikenal sebagai Tahun Baru Islam yang pada tahun 2019 jatuh pada tanggal 1 September. Perayaan ini jatuh setiap tanggal 1 Muharram yang menandai adanya peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Mekah menuju Madinah.
Umat Islam di Indonesia bukanlah satu-satunya yang menjadikan perayaan Tahun Baru Islam sebagai hari libur. Perlakuan serupa juga didapatkan oleh umat Islam di berbagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, di antaranya adalah Mesir, Maroko, Oman, Uni Emirat Arab, Malaysia, serta Yordania. Dalam penetapannya, 1 Muharram dilakukan dengan melihat posisi bulan.

Sejarah Tahun Baru Hijriyah

Tahun Baru Hijiriyah menjadi momen yang sangat bersejarah bagi umat Islam di seluruh dunia. Apalagi, dengan adanya kalender Hijriyah, umat Islam mempunyai kalender pencatatan waktu seperti halnya kalender Masehi, sistem penanggalan yang dibuat oleh umat Kristen.
Keberadaan kalender Hijriyah pada zaman dulu juga sangat penting, karena saat itu masyarakat Arab tidak mengenal sistem penanggalan, termasuk ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup. Oleh karena itu, berbagai peristiwa bersejarah yang melibatkan Nabi Muhammad, tidak dilakukan pencatatan dengan tanggal hari, bulan, serta tahun. Kalaupun ada, pencatatannya dilakukan dengan perhitungan tahun kenabian.
Gagasan mengenai adanya sistem kalender Islam dimunculkan oleh Ya’la bin Umayyah yang merupakan gubernur di Yaman pada zaman kepemimpinan Abu Bakar. Hanya saja, gagasan itu baru terwujud pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab yang menjadi khalifah kedua dalam sejarah agama Islam.
Tidak adanya sistem penanggalan pada masa itu memang membuat kegiatan administrasi begitu menyulitkan. Apalagi, ketika turun perintah dari khalifah kepada para gubernur yang ada di berbagai daerah. Keluhan ini salah satunya diungkapkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari yang secara langsung mengungkapkan kerisauannya kepada Umar bin Khattab.
Dia mengatakan bahwa dirinya telah menerima surat dari Umar. Hanya saja, dia mengalami kebingungan terkait pelaksanaan perintah dalam surat itu. Alasannya, di dalam surat tercantum tanggal Sya’ban, hanya saja tidak ada penjelasan lebih rinci, Sya’ban dalam surat tersebut apakah Sya’ban tahun ini atau tahun depan?
Berkaca pada pengalaman tersebut, Umar bin Khattab pun memandang pentingnya sistem kalender yang bisa digunakan oleh umat Islam. Dia pun mengumpulkan para ulama dan tokoh Islam dari berbagai penjuru untuk memusyawarahkannya. Dari hasil musyawarah ini, ada 4 usulan yang diperoleh terkait perhitungan kalender Tahun Baru Islam, yakni:

  • Dimulai dari tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW
  • Dimulai dari wafatnya Nabi Muhammad SAW
  • Diawali dari peristiwa penerimaan wahyu pertama Nabi Muhammad SAW
  • Dihitung dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah

Nabi Muhammad sempat menjadi pertimbangan. Hanya saja, tidak ada tanggal pasti terkait peristiwa ini sehingga bisa memunculkan kontroversi. Sementara itu, hari wafatnya Nabi Muhammad SAW tidak dipilih karena ketakutan bakal memunculkan kenangan menyedihkan di hati umat Islam. Akhirnya, dipilihlah sistem kalender Hijriyah yang diusulkan oleh Ali bin Abu Tholib.
Penetapan Tahun Baru Hijriyah itu dilakukan karena peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW tercatat secara jelas. Pada momen inilah, umat Islam secara resmi menetapkan tanggal 1 Muharram sebagai tahun baru, bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 Masehi.

Nama-Nama Bulan dalam Penanggalan Hijriyah

Seperti halnya dalam sistem kalender Masehi, kalender Hijriyah juga memiliki 12 bulan. Hanya saja, secara keseluruhan, jumlah hari pada kalender Hijriyah lebih sedikit dibandingkan kalender Masehi. Pada kalender Hijriyah, total terdapat sebanayk 12 bulan dengan 354 hari (355 hari pada tahun kabisat).
Perhitungan bulan pada kalender Hijriyah diawali dengan bulan Muharram dan diakhiri pada bulan Dzulhijjah. Berikut ini adalah daftar urutan bulan di kalender Hijriyah:

  1. Muharram :30 hari
  2. Safar : 29 hari
  3. Rabiul Awal : 30 hari
  4. Rabiul Akhir : 29 hari
  5. Jumadil Awal : 30 hari
  6. Jumadil Akhir : 29 hari
  7. Rajab : 30 hari
  8. Sya’ban : 29 hari
  9. Ramadhan : 30 hari
  10. Syawal : 29 hari
  11. Dzulkaidah : 30 hari
  12. Dzulhijjah : 29 (30) hari

Di waktu yang sama, umat Islam juga menetapkan nama-nama hari berdasarkan kalender Hijriyah. Nama-nama hari tersebut adalah Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.

Berbagai Tradisi Perayaan Tahun Baru Hijriyah di Indonesia

Kedatangan Tahun Baru Hijriyah oleh masyarakat Indonesia mendapatkan sambutan yang begitu meriah. Hal ini ditandai dengan adanya beragam tradisi yang dilakukan secara rutin oleh umat Islam di berbagai daerah di tanah air, di antaranya adalah:

  • Ledug Suro di Magetan
    Tradisi yang pertama adalah Ledug Suro yang dilakukan oleh warga Kota Magetan. Pelaksanaan Ledug Suro dilakukan dengan melakukan rangkaian acara yang dimulai sejak 1 minggu sebelum Tahun Baru Hijriyah. Beberapa acara yang bisa disaksikan pada Ledug Suro di antaranya adalah pertunjukan wayang kulit, reog, jalak lawu, dan lain-lain. Sebagai acara penutup, dilaksanakan kirab yang ditandai dengan iringan rombongan yang membawa roti bolu berbentuk lesung dan bedhug.
  • Gema Muharram di Riau
    Di Provinsi Riau, ada acara rutin bernama Gema Muharram yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Acara ini dilakukan dengan cara berbuka puasa bersama dengan menu bubur asyura pada tanggal 10 Muharram. Lokasi pelaksanaan biasanya di Lapangan Gajahmada Tembilahan.
  • Kirab Muharram
    Kirab Muharram menjadi tradisi yang banyak dilakukan di berbagai tempat, termasuk di antaranya adalah Yogyakarta, Surabaya, dan kota-kota lain. Dalam tradisi ini, masyarakat berbondong-bondong berkeliling ke jalanan dengan disertai pertunjukan budaya tradisional seperti wayang, rebana, pencak silat, dan lain-lain.

Demikianlah informasi singkat mengenai Tahun Baru Hijriyah 2019 yang ada di Indonesia. Semoga informasi ini bermanfaat dan selamat hari raya Tahun Baru Hijriyah 2019 bagi Anda yang merayakan.

Related HariLibur